Kondisi jalan yang mengalami kerusakan cukup parah ini terlihat dari genangan air dan lumpur di sepanjang jalur vital tersebut. Seperti yang terlihat dalam dokumentasi warga , akses jalan ini tampak kupak-kapik dan sulit dilalui kendaraan jika tidak segera dibenahi.
Salah seorang warga setempat berinisial AR mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap pemerintah desa maupun pihak korporasi yang beroperasi di wilayah tersebut. Menurutnya, perbaikan yang dilakukan oleh pihak perusahaan sebelumnya dinilai setengah hati.
"Kemarin cuma dikerjakan oleh pihak perusahaan sebatas Sungai Tebengan. Kini dilanjutkan oleh masyarakat yang ada kebun di seputaran jalan itu. Kami sangat kecewa atas Pemerintah Desa dan PT SAP. Karena kenapa tidak bisa memperbaikinya? Sedangkan jalan itu sudah dekat dengan yang dikerjakan PT SAP kemarin," ungkap AR dengan nada kesal.
AR menambahkan bahwa jalan tersebut dulunya merupakan jalur aktif yang sering dilalui oleh kendaraan operasional milik PT SAP dan PT SSL. Ia membeberkan bahwa pihak perusahaan sempat berjanji akan melakukan perbaikan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Namun kenyataannya, setelah kondisi jalan hancur lebur, janji tersebut menguap begitu saja tanpa ada realisasi nyata.
"Jalan tersebut dulu sering dilalui kendaraan PT SAP dan PT SSL. Janji akan memperbaiki menggunakan dana CSR, namun setelah hancur tidak diperbaiki," tambahnya.
Kini, masyarakat hanya bisa mengandalkan tenaga dan modal swadaya secara mandiri agar aktivitas perekonomian dan mobilitas antar-kabupaten tidak lumpuh total.
Kendati demikian, warga tetap menaruh harapan besar agar pemerintah daerah dan pihak desa tidak menutup mata melihat kondisi ini.
"Begitu juga dengan pemerintah desa, kami masyarakat sangat berharap (adanya tindakan nyata)," tutup AR.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Desa Pauh, manajemen PT SAP, maupun PT SSL terkait keluhan dan tuntutan perbaikan jalan yang disampaikan oleh warga."LIKA"





